Fenomena Kedigdayaan Dolar AS

INDONESIASATU.CO.ID:

Akhir-akhir ini kita dibuat heboh akan 2 hal, pertama tentu saja Piala Dunia, yang kedua nilai tukar rupiah yang semakin mengkhawatirkan. Publikasi Piala Dunia yang sudah memasuki babak-babak akhir tentu saja lebih menyita perhatian, apalagi banyak kejutan dengan tumbangnya tim-tim unggulan. Lantas bagaimana dengan rupiah? Sebelum dibahas, sejenak coba kita tengok kinerja perekonomian kita. Perekonomian Indonesia masih berusaha tumbuh stabil di atas angka 5 persen di tahun 2018, melanjutkan kesuksesan pencapaian tahun 2017. Ikhtiar pemerintah untuk terus menjaga momentum pertumbuhan ini, untuk menjawab keraguan pasar dan pelaku ekonomi setelah beberapa tahun sebelumnya hanya tumbuh di bawah angka 5 persen. Kurang optimalnya pencapaian tahun sebelumnya, salah satunya disebabkan karena faktor eksternal yang tidak terprediksi yaitu harga komoditas yang menurun tajam di pasar internasional. Akibatnya cukup memukul angka ekspor Indonesia dan merembet ke melorotnya sumbangan sektor komoditas ke penerimaan APBN. Kini seiring tingkat pertumbuhan yang naik stabil, Pemerintah menaruh kepercayaan diri yang tinggi.

Selama tahun 2017, perekonomian Indonesia sudah cukup stabil setelah berakhirnya masa penyesuaian medio 2014-2016. Indikator makro ekonomi 2017 menunjukkan angka yang bagus. Paling tidak ditandai dengan pertumbuhan ekonomi pada angka 5,07 persen, inflasi sebesar 3,61 persen, nilai tukar rupiah pada angka Rp13.384 per dolar AS, dan realisasi penerimaan pajak sebesar Rp1.343,5 triliun atau terbaik dalam 3 tahun terakhir (sumber: kemenkeu.go.id). Berlandaskan pada pencapaian indikator tersebut dan keberhasilan melakukan restrukturisasi anggaran belanja subsidi APBN, Pemerintah optimis mampu mencapai kondisi yang lebih baik di tahun 2018. Untuk tahun 2018 ini, Pemerintah dan BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dalam range 5,1-5,4 persen. Namun ibarat balita yang baru berlatih jalan, ternyata untuk bisa berjalan dengan kokoh harus jatuh-bangun terlebih dahulu. Pun begitu, di saat kondisi ekonomi sudah mulai nyaman dan tingkat pertumbuhan makin stabil, ternyata hadangan sudah datang membabi buta. Salah satunya penguatan mata uang dolar AS terhadap mata uang rupiah yang makin menjadi-jadi.

Kondisi perekonomian global akhir-akhir ini memang penuh ketidakpastian. Bukan hanya perang dagang yang melibatkan AS dan China, bahkan sekarang Uni Eropa pun siap menyambut tantangan perang tarif dengan AS. Kebijakan Donald Trump dinilai brutal karena menutup diri dan memproteksi barang produksi dalam negeri. Caranya dengan mengenakan biaya masuk yang tinggi terhadap barang-barang impor dari negara lain, dan ini yang membuat China dan Uni Eropa berang. Yang terakhir, Uni Eropa (UE) telah memperingatkan AS tentang pengenaan tarif impor mobil dan suku cadang mobil yang dinilai akan membahayakan industri otomotif AS. Namun hal tersebut ditanggapi dingin oleh Trump. Jika konflik dagang ini tidak segera berakhir, dikhawatirkan akan mengganggu pertumbuhan global dan membawa dampak buruk bagi perekonomian global.

Kenaikan suku bunga The Fed Fund Rate sebesar 2,0 persen pada awal Juni lalu semakin menekan rupiah. Investor-investor pemilik dana besar di pasar keuangan membawa lari dananya ke luar negeri untuk mencari keuntungan yang lebih besar. Usaha Bank Indonesia (BI) dalam mematok BI Rate sebesar 5,25 persen ternyata belum cukup mampu menahan dana tersebut berlama-lama di pasar keuangan Indonesia. Selisih tingkat bunga sebesar 3,25 persen dianggap tidak signifikan oleh investor karena risiko investasinya (seperti pelemahan nilai rupiah, kenaikan tingkat inflasi) jauh lebih besar sehingga justru tingkat keuntungan yang didapatkan lebih kecil. Pendek kata, untuk saat ini lebih aman dan lebih untung bagi investor untuk menempatkan uangnya di negara maju.

Per 03 Juli 2018 nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Di pasar spot, rupiah sempat menyentuh angka Rp 14.420 per dolar AS, level terlemah sejak 2015. Penurunan yang terus-menerus terjadi membuat kekhawatiran makin besar para pelaku ekonomi. Dikhawatirkan jika mata uang rupiah tidak segera rebound, psikologi investor terbawa akan terjadinya krisis kecil meski tidak sampai krisis besar seperti tahun 1998. Namun hal ini buru-buru ditepis oleh Gubernur BI. Perry Warjiyo menjelaskan, pelemahan kurs rupiah saat ini masih terkendali karena jika diukur secara relatif depresiasi mata uang yang dialami negara-negara lain lebih besar dibandingkan rupiah. "Kalau memang negara lain melakukan pelemahan, tidak mungkin kita menguat sendiri. Oleh karena itu, secara relatif, depresiasi rupiah dibanding negara-negara lain masih manageable, sehingga tidak perlu kemudian menimbulkan suatu kepanikan," kata Perry (sumber: kontan.co.id).

BI terus memantau kondisi pelemahan rupiah dan melakukan langkah-langkah stabilisasi ekonomi, khususnya nilai tukar rupiah karena memang ini tugas BI sebagaimana diamanahkan dalam UU Nomor 23 Tahun 1999. Tetapi, meski BI telah menaikkan suku bunga sebanyak 50 basis point (bps) pekan lalu, namun nilai tukar rupiah masih tetap saja terjerembab. Untuk menahan pelemahan rupiah dengan posisi sekarang pun, cadangan devisa yang digunakan untuk intervensi pasar juga tidak sedikit. Dari akhir April ke akhir Mei 2018 saja, cadangan devisa sudah mulai menurun sebesar 2 milyar dalam posisi 122,9 milyar USD. Jumlah cadangan devisa ini setara dengan pembiayaan 7,5 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah.

 

Pelemahan nilai tukar pastinya tidak bisa dilepaskan dari faktor supply dan demand. Sekarang, mata uang bukan hanya sebatas alat tukar tetapi sudah merupakan barang komoditas dan instrumen investasi sehingga keberadaannya sangat vital. Jika jumlah ketersediaan dolar sedikit di saat kebutuhan yang banyak, akan mengakibatkan mata uang dolar naik dan mata uang rupiah melemah. Dan kondisi sebaliknya akan menyebabkan nilai tukar rupiah menguat. Lantas apa yang menyebabkan nilai tukar rupiah akhir-akhir ini menurun? Selain faktor kenaikan Fed Fund Rate, ada faktor penting lain yang perlu kita perhatikan. Semakin memburuknya neraca berjalan karena impor lebih besar dari ekspor adalah cermin fundamental ekonomi yang tidak bisa diabaikan. Menurut catatan BI, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal I/2018 tercatat defisit 3,8 miliar dolar AS. Adapun defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) pada kurun yang sama mencapai 5,5 miliar dolar AS. NPI triwulan II baru akan dirilis pada Agustus mendatang, namun kemungkinan triwulan II 2018 tidak berbeda jauh dengan triwulan sebelumnya karena kebutuhan impor yang masih besar.

Ya, masalah impor memang makin pelik saja. Ada beberapa faktor yang menyebabkan meningkatnya jumlah impor. Pertama, Impor barang konsumsi meningkat. Momen puasa dan lebaran menjadikan kebutuhan masyarakat makin besar sehingga otomatis mengerek impor barang konsumsi. Kedua, Impor bahan baku industri yang masih besar. Sebagian besar industri manufakatur masih menggantungkan bahan baku dari impor karena industri dalam negeri belum mampu menyediakan dalam jumlah cukup. Industri berat membutuhkan baja, besi, dan plastik sedangkan sektor pertanian dan kesehatan membutuhkan bahan kimia, yang semuanya masih diimpor dari luar negeri. Ketiga, Impor bahan modal untuk infrastruktur. Pembangunan jalan, jembatan, bandara, pelabuhan dan lain-lain semakin gencar oleh pemerintah selain membutuhkan material/bahan baku juga membutuhkan bahan modal peralatan dan mesin luar negeri. Hal ini belum ditambah pembangunan properti skala besar yang digarap oleh swasta.

Lantas Bagaimana Meningkatkan Kinerja Rupiah?

Banyak cara yang dapat dilakukan oleh pembuat kebijakan moneter, kebijakan perbankan maupun kebijakan fiskal sesuai tugas masing-masing. Yang pasti, bauran kebijakan fiskal dan kebijakan moneter yang selama ini dilakukan oleh Pemerintah bersama-sama dengan Bank Indonesia, OJK, LPS harus terus dikawal agar kepercayaan investor terhadap rupiah makin baik. Nah, untuk faktor fundamental setidaknya ada dua hal yang dapat dilakukan. Pertama, Memperbaiki kinerja impor dengan pembatasan secara selektif. Opsi ini sudah dilontarkan Menkeu di berbagai kesempatan akhir-akhir ini. Pilihan jangka pendek ini diambil oleh pemerintah agar pelemahan kinerja impor tidak semakin dalam yang dapat memperburuk kinerja nilai tukar rupiah. Pemerintah hanya akan memberikan ijin impor untuk barang baku dan barang modal yang dibutuhkan untuk meningkatkan perekonomian dalam negeri. Upaya tersebut dilakukan agar defisit transaksi berjalan atau current account defisit dapat diperkecil. Tentu cara ini harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak berdampak pada inflasi.

Kedua, Menjaga dan Memupuk Cadangan Devisa Negara. Inflasi tidak selamanya bisa dilawan dengan menaikkan suku bunga acuan. Menjadi tugas BI untuk selektif, kapan harus menaikkan tingkat suku bunga dan kapan harus bertahan agar cadangan devisa tidak tersedot dalam tempo yang cepat. Yang perlu diperhatikan juga adalah bagaimana para eksportir bisa meningkatkan kinerja ekspor dengan mencari celah di saat kondisi perekonomian internasional yang tidak kondusif. Hasil ekspor dalam bentuk devisa harus disimpan di perbankan nasional untuk memperkuat sistem keuangan nasional. Pemberian insentif suku bunga tentu berperan penting dalam hal ini.

Selamat Beraktivitas dan Aku Cinta Rupiah.

Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan tidak mewakili institusi dimana penulis bekerja.

 

Penulis,

Wakhid Susilo

Kanwil Ditjen Perbendaharaan Prov. Gorontalo Kementerian Keuangan

  • Whatsapp

Berita Terpopuler

Index Berita